“Berikan aku 100 orang tua, maka akan kupindahkan mahameru. Tapi berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia”-Soekarno
keprok-keprok yang membahana di Blitz kemaren adalah bukti bahwa Riri Riza sukses membuat sebuah film yang terinspirasi dari novel karya Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi, dan diberi judul yang sama.
film ini berkisah tentang 10 (+1) orang anak yang tidak pernah menyerah dan selalu tersenyum walaupun keadaan tak bersimpati pada mereka. Di balik penampilan mereka yang kusam, mereka adalah mutiara-mutiara karunia Yang Kuasa. Ada Lintang, seorang anak kuli kopra jenius yang setiap hari harus bersepeda ke sekolah sejauh 80 km tiap hari dan berhadapan dengan buaya darat yg sewaktu-waktu bisa menelannya idup2. Ada pula Mahar, seorang bocah seniman yang berhasil membuat SD Muhamadiyah, SD yang akan ditutup setelah ia dan kawan2nya lulus, mendapatkan tepuk tangan meriah saat bocah seniman itu mempersembahkan sebuah ide gokil pada lomba 17 Agustus. Berbagai kisah mewarnai masa kecil kesebelas anak itu-Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Trapani, Harun, Samson, Sahara, Kucai, A Kiong, dan Flo, yang dinamakan Laskar Pelangi oleh guru mereka, Bu Muslimah, karena kegemaran kolektif mereka terhadap pelangi- mulai dary petualangan menemui seorang shaman bernama Tuk Bayan Tula untuk mendapatkan “resep lulus ujian”, hingga kisah cinta unik Ikal dengan saudara sepupunya A Kiong yang bernama A Ling.
Film ini is soooooo worthy to watch. Emosinya ngena banget karena akting para pemain yg sebagian besar merupakan penduduk asil Belitong ini bener2 jempolan! Mulai dari pertemuan pertama Ikal dengan A Ling hingga perpisahan dengan salah satu seorang anggota Laskar Pelangi, we got the feeling.
But, menurut gw, ini film yang terinspirasi dari novel itu, bukan adaptasi seperti yang tertera di opening credits. Y? Ada beberapa hal yang melenceng dari cerita asli novelnya:
1. Latar waktu. Setting di novelnya adalah sampai Ikal cs lulus SMP, sedangkan di filmnya, hanya sampai mereka lulus SD.
2. Bakat seni Mahar. Di novel, Mahar unjuk gigi saat menyanyikan lagu Tenneesee Waltz di depan kelas saat pelajaran kesenian, sedangkan di film, bakat itu sudah ketahuan sejak awal sama teman2nya, dan lagu andalan Mahar adalah Seroja yang dinyanyikan saat menghibur Ikal yang jatuh cinta.
3. Pertanyaan-pertanyaan di lomba cerdas cermat yang diikuti Lintang. Di film, soal2nya sudah di-downgrade menjadi soal2 ala SD-karena setting waktu film ini, mungkin. Tidak ada Joanne d’ Arc, Thermoluscent Dating, atau Cincin Newton yang diperdebatkan dengan seru oleh Lintang dan dewan juri. Atau bagian ini di novel dianggap terlalu absurd sehingga di-masuk-akal-kan bagi penonton pada versi film?
4. di novel, hadiah perpisahan A-Ling kepada Ikal berupa buku berjudul Edensor, sedangkan di film, hanya sebuah kotak bergambar Menara Eiffel.
5. Pada epilog film, yang mengunjungi Lintang adalah si Ikal, sementara di novel, Mahar (iya ya? gw lupa, yg jlas bkan Ikal). Di novel dijelaskan juga satu-satu bagaimana nasib seluruh anggota Laskar Pelangi di masa depan, namun, di film, hanya nasib Lintang dan Ikal yang dipaparkan, itu pun sedikit berbeda dengan novelnya. Lintang tetap tinggal di kampung halamannya (dan di film, ia mempunyai anak yang mewarisi kejeniusan juara lomba cerdas cermat itu), sedangkan Ikal mendapatkan sebuah beasiswa dan melanjutkan kuliah di Sorbonne (di novel, Ikal berkuliah di Jakarta dan mengirim foto kepada ibunya: dirinya dan kawan2nya dg dandanan super EMO)
okay….secara keseluruhan, TWO THUMBS UP for this muvee. You will find a masterpiece bagi yang belom baca novelnya, tapi bagi yang udah, even this is still a splendid work, mungkin a little bit dissapointed karena ada hal2 melenceng seperti di atas.
“Menarilah dan terus tertawa/Walau dunia tak seindah surga/Bersyukurlah pada Yang Kuasa/cinta kita di dunia./selamanya” Laskar Pelangi-Nidji